MAKALAH
Tentang
ASUHAN KEPERAWATAN
PADA Tn. T. DENGAN BPH DI RUANGAN BEDAH PRIA ( CP )

Disusun Oleh :
Ns.Yendri Afriko S.kep
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia ( STIKESI )
2010 / 2011
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehaditrat
Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis telah
dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul “Benigna Prostat Hyperplasia”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis
banyak mendapat hambatan dan kesulitan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari
berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini.
Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya pada pihakpihak yang telah memberikan bantuan pada penulis yangtidak
dapat penulis sebutkan satu persatu disini.
Penulis menyadari bahwa dalam
penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu pada kesempatan
ini penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari semua
pihak yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya.
Semoga dengan adanya makalah ini akan
dapat memberikan manfaat yang besar bagi penulis khususnya dan pembaca semua
pada umumnya.
padang, Desember 2013
Penulis
|
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB.I. PENDAHULUAN. ............................................................................
1.1. Latar Belakang
............................................................................
1.2. Tujuan Penulisan
........................................................................
1.3. Batasan Masalah
.........................................................................
BAB II. KONSEP DASAR BENIGNA
HYPERPALSIA PROSTAT (BPH).
2.1. Defenisi
........................................................................................
2.2. Anatomi Fisiologi ........................................................................
2.3. Etiologi
........................................................................................
2.4. Patofiologi
....................................................................................
2.5. Tanda dan Gejala
..........................................................................
2.6. Gejala Klinik
................................................................................
2.7. Komplikasi ...................................................................................
2.8. Terapi
............................................................................................
2.9. Perawatan
.....................................................................................
BAB III ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN BPH.
3.1. Pengkajian
......................................................................................
3.1.1. Identitas Klien
.....................................................................
3.1.2. Pemeriksaan Fisik
...............................................................
3.1.3. Data Fokus
..........................................................................
3.1.4. Analisa Data
........................................................................
3.2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi
..........................................
3.3. Catatan Perkembangan
..................................................................
DAFTAR
PUSTAKA
|
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sistim kesehatan merupakan
suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan
kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan
kesehjahteraan umum. Dalam Visi Indonesia Sehat 2010, gambaran masyarakat
Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui masyarakat adalah yang
ditandai dengan hidup dalam perilaku sehat yang memiliki kemampuan untuk
menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta
memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau
rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang langsung diberikan kepada
klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan , dalam upaya pemenuhan
kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan metodelogi proses keperawatan,
berpedomen pada standar praktik keperawatan, dilandasi etik dan etika
keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.
Istilah hipertropi prostat yang Kelenjar prostat merupakan bagian dari alat
reproduksi dan melingkari bagian pangkal uretra, sehingga bila terjadi pembesar
kelenjar ini, uretra yang ada ditengah-tengahnya akan tertekan sehingga air
seni (urine) tidak dapat mengalir keluar dengan lancar. Penyakit ini sering
menyerang laki-laki berumur lebih dari 50 tahun. Sudah
umum dipakai sebenarnya tidaklah tepat, karena sebenarnya kelenjar prostat
tidaklah membesar ( hypertropi ) tetapi kelenjar-kelenjar periuretral lah yang
mengalami hyperplasia ( tidak hypertropi ). Dalam hal ini sel-sel glandular dan
sel-sel interstisial mengalami hyperplasia ( selnya bertambah banyak ). Maka
dalam literature benigna hyperplasia of the prostate gland atau adenoma prostat
tapi istilah hypertropi prostate sudah umum dipakai.
Perawat adalah pelayanan
profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan bio, psiko, sosial,
spiritual yang komprehensif yang ditujukan pada individu, keluarga dan
masyarakat dari sakit maupun sehat (Dasar-dasar Keperawatan Pusdiklat DEP KES
RI ).
B.
Tujuan penulisan
- Tujuan Umum
Secara umum,
makalah ini dibuat untuk mempelajari lebih dalam tentang asuhan keperawatan klien dengan BPH.
- Tujuan Khusus
Tujuan khusus
dari penulisan ini adalah untuk mengetahui :
·
Pengertian BPH.
·
Klasifikasi BPH
·
Etiologi BPH
·
Patofisiologi
·
Manifestasi klinis
·
Komplikasi
·
Penatalaksanaan
C.
Batasan Masalah
Masalah yang dibahas dalam makalah
ini yaitu Asuhan Keperawatan pada Tn. T
dengan BPH
BAB II
TINJAUAN TEORITIS BENIGNA PROSTAT HYPERPALSIA
(B P H)
A.
DEFINISI
·
Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran non-kanker (noncancerous)
dari kelenjar prostat (prostate gland) yang dapat membatasi aliran
urin (kencing) dari kandung kemih (bladder).
·
Benigna Prostat
Hiperplasi ( BPH ) adalah pembesaran
jinak kelenjar prostat,
disebabkan oleh karena
hiperplasi beberapa atau
semua komponen prostat
meliputi jaringan kelenjar / jaringan fibromuskuler
yang menyebabkan penyumbatan
uretra pars prostatika
( Lab / UPF Ilmu Bedah
RSUD dr. Sutomo,
1994 : 193 ).
·
BPH adalah
pembesaran progresif dari
kelenjar prostat ( secara
umum pada pria
lebih tua dari
50 tahun )
menyebabkan berbagai derajat
obstruksi uretral dan
pembatasan aliran urinarius
( Marilynn, E.D, 2000 : 671 ).
B.
ETIOLOGI
Benign prostatic
hyperplasia (BPH) atau hyperplasia Prostat jinak adalah pembengkakan yang
terjadi pada kelenjar Prostat, yang dialami oleh pria paruh baya (usia 40 – 59
tahun), sehingga menyumbat saluran kemih.
Dalam dunia medis, apa
yang menjadi penyebab terjadinya pembesaran kelenjar Prostat ini masih tetap
menjadi misteri, masih belum diketahui dengan pasti, tetapi banyak juga teori
yang ditegakan untuk BPH ini seperti :
1.
Teori tumor
jinak ( karena komponennya )
2.
Teori rasial
dan factor sosial
3.
Teori infeksi
dari zat-zat yang belum diketahui
4.
Teori yang berhubungan
dengan aktifitas seks
5.
Teori
ketidakseimbangan hormonal.
Pendapat terakhir ini
sering kali dipakai yaitu terjadi ketidak seimbangan antara hormonal androgen
turun, maka terjadi ketidak seimbangan estrogen menjadi lebih banyak secara
relatif ataupun secara absolut dan ini menyebabkan prostat membesar.
Ada yang menyebut BPH
merupakan salah satu gejala penuaan, andropause, yang terjadi pada pria.
Pertambahan usia menjadi semakin tua mengakibatkan penurunan kadar hormon pria,
terutama testosteron. Penurunan kadar testosteron secara langsung menyebabkan
penurunan kemampuan ejakulasi. Para ahli berpendapat bahwa dihidrotestosteron
(DHT) yang memacu pertumbuhan Prostat—seperti yang terjadi pada masa
pubertas—adalah penyebabnya.
Tetapi ada juga yang
menyebutkan bahwa BPH disebabkan oleh infeksi dalam kelenjar Prostat
(Prostatitis Bacterial). Meskipun demikian, tetap diakui bahwa BPH ini sulit
diatasi. Beberapa sebab lain yang dapat disebutkan di sini ialah stres kronis,
kolesterol yang tinggi, zat-zat nikotin dan konitin, toksin (pestisida,
deterjen, dan limbah pabrik), dan kekurangan mineral (seng, tembaga, selenium).
Jika tidak diatasi secara dini, BPH dapat berakibat pada terjadinya kanker
Prostat atau bahkan juga gagal ginjal karena urin yang tertahan akan balik ke
ginjal sehingga beban kerja ginjal semakin besar.
Sebagai catatan tambahan,
BPH ini sering juga dikenal dengan Nodular hyperplasia, Benign prostatic
hypertrophy, atau Benign enlargement of the prostate (BEP). Berikut disajikan
gambar perbandingan antara Prostat normal dan Prostat yang membengkak
C. PATOFISIOLOGI
Proses pembesaran prostat
terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga
terjadi perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat,
retensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat serta otot destrusor
menebal dan meregang sehingga sehingga timbul sekulasi atau divertikel. Fase
penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut
menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk
berkontraksi sehingga terjadi retensio urine yang selanjutnya dapat menyebabkan
hidronefrosis dan disfungsi salurah kemih atas
Adapun patofisiologis dari masing-masing gejala :
·
Penurunan
kekuatan dan caliber aliran yang disebabkan retensi uretra adalah penurunan
gambaran awalnya dan menetap dari BPH.
·
Nokturia dan
frekwensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi
sehingga interval antar miksi pendek.
·
Frekuensi
terutama terjadi pada malam hari (nokturin) karena hambatan normal dari konteks
berkurang dan tonus otot spinkter dan uretra berkurang selama tidur.
·
Urgensi dan
dysuria jarang terjadi, jika ada disebabkan ketidakstabilan destrusor sehingga
terjadi kontraksi involunter.
·
Inkontinensia
bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urine
sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli akan cepat naik
melebihi tekanan spinkter.
WOC
Penurunan
fungsi organ perkemihan
Aktifitas
saluran kemih terus meningkat
Peningkatan
kompensasi organ perkemihan
Sel
prostate bertambah banyak
pembedahan
·
Disuria nyeri pd
daerah perlukaan
·
Inkontinensia nyeri saat BAK
·
Retensi
urin gelisah
MK :
perubahan eliminasi urin MK : ggn nyaman
nyeri
D.
TANDA/GEJALA
1.
Urinary
frequency
Tidur di malam hari
terganggu hanya untuk kencing. Frekuensi kencing saat siang atau malam hari (nocturia)
biasanya sedikit.
2.
Urinary
Tiba-tiba saja ingin
kencing dengan cepat. (The sudden
urgent need to urinate quicly).Perasaan
akan kencing sebentar lagi, tanpa terkontrol (The sensation of imminent loss of urine without control)
3.
Hesitancy
Aliran urin yang lemah, ragu-ragu, dan
terputus-putus.Sulit untuk memulai kencing. (Difficulty initiating the urinary stream).Harus berdiri atau
duduk di toilet beberapa saat terlebih dahulu sebelum kencing (Having to stand at or sit on the toilet for
some time prior to producing a urinary stream)
4.
Incomplete bladder emptying (pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna
Adanya rasa tidak puas setelah berkemih. (The
sensation of incomplete evacuation of urine from the bladder).Perasaan ada
urin residu/sisa yang menetap tanpa memerhatikan frekuensi miksi.(The
feeling of persistent residual urine regardless of the frequency of urination)
5.
Straining (tegang, mengejan)
Perlu sensasi mengejan untuk mengosongkan kandung
kemih. (The need strain or push (Valsalva
maneuver) to initiate and maintain
urination in order to more fully evacuate the bladder).
6.
Straining (tegang, mengejan)
Perlu sensasi mengejan
untuk mengosongkan kandung kemih. (The
need strain or push (Valsalva maneuver)
to initiate and maintain urination in order to more fully evacuate the bladder).
7.
Decreased force of stream (Berkurangnya kekuatan kencing)
Perasaan subjektif kehilangan
kekuatan saat kencing (The
subjective loss of force of the urinary stream over time).
8.
Dribbling or dripping (menggiring atau menetes)
Kehilangan sejumlah kecil
urin karena aliran urin yang jelek
Sumber lain menyebutkan:
1)
Gejala
obstruktif
Misalnya : susah memulai kencing, pancaran saat
kencing lemah, kencing tiba – tiba behenti atau lancar lagi, kencing tidak
puas,menetes setelah kencing
2) Gejala
iritatif
Misalnya: anyang-anyangen, sering kencing
di malam hari (nokturia), rasa ingin kencing yang tidak bisa ditahan
(urgensi),rasa nyeri atau tidak enak saat kencing (disuria
E. GEJALA KLINIK
Sesuai dengan anatominya
maka pembesaran prostat dapat mengenai daerah peri uretral, daerah subtrigonal
atau daerah bladder neck dan pendesakan daerah inilah yang menyebabkan gejala
klinik.
Progresitifitas dari BPH
adalah lambat artinya penderita tidak mengetahui onset dari penyakitnya itu dan
ia timbul telah ada penyulit-penyulit, seperti yang sering adalah retensi
urine, berkurangnya pancaran kencing, air kencing menetes setelah habis
berkemih, berkemih yang tidak lampias. Tapi
tidak semua BPH menimbulkan keluhan, adapun keluhan tersebut dapat dibagi dalam
derajat :
·
Derajat I :
penderita merasakan lemahnya pancaran kencing, kencing tidak lampias, frekuensi
bertambah pada malam hari
·
Derajat II :
adanya retensi urine maka timbulah infeksi. Penderita akan mengeluh waktu miksi
terasa panas ( disuria ) dan kencing malam bertambah hebat
·
Derajat III :
timbul retensi total
Derajat Benigne Prostat Hyperplasia
Benigne Prostat
Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya :
1.
Derajat satu,
keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 – 2 cm, sisa urine kurang 50
cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram.
2.
Derajat dua,
keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas
badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas
atas masih teraba, sisa urine 50 – 100 cc dan beratnya + 20 – 40 gram.
3.
Derajat tiga,
gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih
100 cc, penonjolan prostat 3 – 4 cm, dan beratnya 40 gram.
4.
Derajat
empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal
seperti gagal ginjal, hydroneprosis.
Selain gejala diatas dapat timbul gejala lain seperti :
·
Masa pada
abdomen bagian bawah
·
Hematuria
·
Overflow
urinaria incontinentia atau dapat ditemukan efek sekunder dari obstruksi
bladder neck sebagai gejala permulaan seperti anemia, peningkatan ureum dan
kreatinin atau tanda-tanda insufisiensi renal lainnya.
·
Kadang
retensi akut merupakan gejala pertama yang dikeluhkan penderita, hal ini
disebabkan oleh karena odem yang terjadi oleh prostate yang membesar, odem akut
juga disebabkan oleh menahan kencing yang terlalu lama, disebabkan oleh udara
dingin atau terlalu banyak minum
Beberapa test biasanya
dilakukan oleh dokter untuk mengidentifikasi masalah dan memutuskan pengobatan
apa yang harus pasien terima. Beberapa test yang biasanya dilakukan seorang
dokter urology dapat disebutkan di sini.
1.
Digital Rectal Examination (DRE)
Test ini biasanya merupakan test pertama yang
dilakukan dokter. Dokter memasukkan jari ke rectum dan merasakan Prostat dekat
rectum. Test ini memberikan opini bagi dokter tentang ukuran dan kondisi
Prostat.
2.
Prostate-Specific Antigen (PSA) Blood
Test
Test ini untuk mendeteksi ada tidaknya kanker BPH.
3.
Rectal Ultrasound and Prostate Biopsy
Jika dicurigai terdapat kanker dalam Prostat, test
ini pun dilakukan, yaitu dengan menangkap gelombang suara yang diarahkan ke
Prostat. Pola-pola gema suara itu dicatat untuk menentukan ada tidaknya tumor.
4.
Urine Flow Study
Dokter meminta pasien untuk membuang
air kecil ke dalam sebuah alat khusus untuk mengukur seberapa cepat air seni
mengalir. Suatu arus yang dikurangi sering kali menyarankan BPH.
5. Cystoscopy
Dalam test ini, dokter menyisipkan
sebuah tabung kecil melalui uretra, yang memuat sebuah lensa dan sistem
pencahayaan yang membantu dokter untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung
kemih
F. KOMPLIKASI
Apabila buli-buli menjadi
dikompensasi akan terjadi retensio urine karena produksi urine terus berlanjut
maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urine sehingga
tekanan intra vesika meningkat dapat timbul hydroureter, hydronefrosis dan
gagal ginjal, proses kerusakan ginjal dipercepat jika terjadi infeksi.
Karena selalu terdapat
sisa urine dapat berbentuk batu endapan dalam buli-buli. Batu ini dapat
menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula
menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi infeksi.
Komplikasi lain yang dapat terjadi
yaitu :
·
Hemorrhoid
·
Perdarahan
·
Inkontinensia
·
Uretritis dan
traktus uretra
·
Epindidimiorkhitis
·
Trombosis
·
Fistula (
suprapubik, rektiprostatik )
·
Osteitis
pubis
G. TERAPI
Terapi untuk BPH ada 2 macam :
1.
Konservatif
Terapi konservatif
dilakukan bila terapi operasi tidak dapat dilakukan karena misalnya menolak
operasi, mempunyai sakit jantung berat dan kontra indikasi operasi lainnya.
Terapi konservatif yaitu
mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena terjadinya / adanya
infeksi sekunder dengan peran antibiotik.
Terapi untuk retensi urine yaitu dengan kateterisasi dengan 2 cara :
1)
Kateterisasi
intermitten
Buli-buli dapat dikosongkan dan kateter segera
dilepas, beberapa pasien kemudian akan dapat miksi sendiri dengan spontan
2)
Kateterisasi
indwiling
Sangat berguna terutama bila penderita dulunya
juga pernah mengalami retensi urine akut. Tiap hari hendaknya kateter
dibersihkan dan tiap minggu diganti dengan kateter baru.
Pada tindakan ini hendaknya disertai dengan
perlindungan terhadap bahaya infeksi dengan memberikan juga obat sulfa atau
antibiotik.
2.
Operatif
Tindakan operatif :
·
Pernah
obstruksi / retensi berulang
·
Urine sisa
lebih dari 50 cc
·
Pada
panendoskopi didapatkan trabekulasi yang jelas
Kontra
indikasi :
Kelainan jantung yang
berat ( dekompensasi dan infark segar ), insufisiensi paru yang hebat,
hypertensi
Kontra indikasi relatif :
·
DM yang tidak
terkendali
·
Kelainan
pembekuan darah
Ada 4
cara prostatektomi yang dikenal :
1.
Suprapubik
transvesikel yaitu kelenjar prostat diangkat melalui sayatan dinding perut
dengan membuka kandung kencing
2.
Refropubik
ekstravasikel yaitu perut disayat agak kebawah, lalu kelenjar prostat diangkat
tanpa membuka dinding kandung kencing
3.
Perineal
prostatektomi yaitu kelenjar prostat dibuang melalui perineum ( sekarang sudah
ditinggalkan karena banyak menimbulkan komplikasi )
4.
Trans uretral
resection ( TUR ) yaitu kelenjar diangkat melalui saluran uretra
PERAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMBEDAHAN
Persiapan Pre Operasi
1.
Tanda persetujuan
secara tertulis; penderita dan keluarga harus menyatakan persetujuan pembedahan.
2.
Catatan
sebelum pembedahan
Ahli bedah harus
meninggalkan suatu catatan pada status pasien dengan menuliskan latar belakang,
penemuan dan indikasi untuk operasi itu
3.
Pesan sebelum
pembedahan
Pesan tertulis sebelum
pembedahan untuk melengkapi persiapan ;
1)
Persiapan
kulit
Daerah yang akan dicukur ditentukan, lebih baik
kalau pencukuran itu langsung dilaksanakan sebelum pembedahan. Penderita harus
dimandikan dengan bersih malam sebelum pembedahan
2)
Diet
penderita, tidak boleh makan makanan padat selama 12 jam atau pasien dipuasakan
dan minum cairan selama 8 jam sebelum pembedahan
3)
Cairan IV
Pemberian cairan IV tidak diperlukan pada berbagai
kasus tetapi pada penderita yang lansia atau yang lemah maka perlu diberikan
cairan
4)
Pengurangan
isi perut
Pencahar kebanyakan dilaksanakan pada pembedahan
perut. Pengosongan sebagian dari usus dilaksanakan pemberian 2-3 tablet
dulcolak, peroral atau suppositoria. Pengurasan lebih sempurna dilaksanakan
dengan memakai garam fisiologis atau air ledeng + sabun yang hangat kuku (
500-1500 cc )
5)
Pemberian
obat-obatan
Premedikasi anestesi biasanya ditangani oleh
dokter ahli anestesi. Obat sebelum pembedahan dapat atau tidak dapat diteruskan
harus dilihat lagi
6)
Test
laboraturium
Pemeriksaan BUN, kreatinin, serum, urine rutin,
kalium, serum, kreatinin dll
7)
Sinar x
Penyinaran pada dada, pielogram IV dapat
menetapkan besarnya ginjal dan adanya obstruksi air kemih dan arteriogram
kadang diperlukan
8)
Transfusi
darah
Dilaksanakan apabila kadar HB dibawah normal
disebabkan terjadi perdarahan sesudah operasi
Perawatan Pasca Bedah
1.
Jenis
pembedahan
Sehingga perawat dan dokter yang juga mengetahui
persoalan yang dihadapi
2.
Tanda-tanda
vital
Tekanan darah, nadi, respirasi harus dicatat tiap
15 menit sesudah itu tiap jam selama beberapa jam kemudian tiap 4 jam hingga
penderita stabil
3.
Catat BB
setiap hari, input dn output
4.
Tentukan
catatan BUN, kreatinin, elektrolit setiap hari
5.
Pertahankan
keseimbangan cairan dan elektrolit setiap hari
6.
Aktivitas
posisi
Posisi mula-mula terlentang tetapi penderita harus
dimiringkan kekiri atau kekanan tiap 30 menit sementara ia tak sadarkan diri
dan setiap jam sesudahnya. Anjurkan menggerakan kaki secara aktif dan pasif
setiap jam hingga diperbolehkan berjalan
7.
Makanan
8.
Cairan
intravena ( catat jenis cairan dan kecepatan infus )
9.
Pantau drain
pada luka pembedahan bila ada catat outputnya
10. Pantau irigasi pada kandung kemih bila ada
11. Perawatan luka bersih pada daerah luka pasca bedah
12. Pengobatan
Teliti daftar obat-obatan yang diberikan sebelum
pembedahan apakah masih perlu pengobatan sesuai dengan indikasi dan pesanan
dokter
BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
HIPERPLASIA PROSTAT
A.
PENGKAJIAN
1.
Identitas klien
Nama :
Tn. T
Umur :
71 Thn
Jenis klamin :
Laki- laki
Agama :
Islam
Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat :
No MR :
Tgl masuk : 26 november 2010
Ruang rawat : Bedah Pria ( CP )
P. Jawab : Istri
Yang mengirim : Polyklinik Bedah
Cara masuk : Berjalan sendiri
Alat bantu : Poly kateter
Alasan Masuk : Klien mengatakan nyeri pada saat
BAK,nyeri tekan pada ari-ari, Klien sudah direncanakan untuk operasi.
Tanggal Pengkajian :
26 – 11 - 2010
2.
Riwayat Kesehatan
a.
Sekarang :
Pada saat pengkajian pada tanggal 28-11-2010,
klien baru masuk bangsal melalui poliklinik bedah diantar oleh istri dan anak. Klien
mengatakan nyeri pada saat BAK, BAK
keluar sedikit sedikit dan merasa
tidak puas saat BAK dan klien mengatakan urine sering menetes setelah BAK. Klien mengatakan tidak tahan kalau
tidak pasang kateter, kateter sudah pasang dari rumah ( kateter dipasang
ditempat praktek dokter 5 hari yang lalu ).
Klien rencana persiapan untuk operasi hari senin
29-11-2010, dan klien mengatakan sedikit cemas untuk menghadapi operasi besok. Klien
tampak mondar mandir diruangan ketika ditinggalkan sebentar oleh keluarga.
Klien juga mengatakan tidak tahan menahan
sakit kalau tidak dioperasi.
b.
Dahulu :
Klien mengatakan penyakit ini sudah terasa sejak
1,5 bln yang lalu, dan klien pergi berobat ketempat praktek dokter, dianjurkan
untuk operasi, dicoba pasang kateter ditempat praktek dokter tetapi juga tidak
berhasil, BAK sedikit.
c.
Keluarga :
Anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit
yang sama dengan klien .
3.
Pemeriksaan Fisik
a. Tanda –
tanda vital :
TD : 130/ 90 mmHG
S : 36,6
P : 20 x/i
N : 72 x /i
BB : 61 kg
TB : 171 cm
Kesadaran : CM
b. Rambut
Hitam sedikit beruban, tidak rontok, kulit kepala
bersih, tidak berketombe dan tidak ada lesi.
c. Mata
Simetris ki dan ka, konjungtiva tidak anemis,
sklera tidak
ikterik,palpebra tidak edema serta pupil isokor.
d. Hidung
Septum nasal simetris, tidak ada sekret, polip
tidak meradang, dan tidak ada perdarahan.
e. Mulut
Mukosa bibir baik dan tidak kering, gigi tidak
lengkap, ada karies, lidah bersih dan tonsil tidak meradang.
f. Telinga
Simetris ki dan ka, tidak ada serumen, klien tidak
memakai alat bantu pendengaran.
g. Leher
Kelenjer getah bening dan kelenjer tiroid tidak
teraba.
h. Dada /
thorak
·
Paru-paru
I :
Simetris ki dan ka
P :
Fremitus sama ki dan ka
P : Sonor
(+)
A :
Vesikuler
·
Kardiovaskuler
I : Iktus
kordis terlihat
P : Iktus
kordis teraba 1 jari di LMCS - RIC V
P : Batras
jantung normal
A : Irama
teratur
i. Abdomen
I : Tidak
membuncit
P : Hepar
teraba
P : Tympani
A : Bising
usus normal = 15 x/i
j. Genitalia
Lengkap dan bersih, terpasang kateter.
k. Ektermitas
Atas dan Bawah : Lengkap ki dan ka, tidak ada
cianosis, kapilerrefil kembali 3 detik, akral hangat dan tidak edema.
l. Kulit
Warna sawo matang, turgor baik dan tidak cianosis.
m.
Pemenuhan
Kebutuhan Dasar
·
Nutrisi/makan
Sehat : 3 x
sehari (nasi+lauk+sayur) porsi habis
Sakit :
Diit MB 3 x sehari porsi habis
·
Cairan/minum
Sehat :
2000 – 2500 cc / hari, air putih + minuman kaleng
Sakit :
1500 – 2000 cc / hari, air putih
·
Tidur/istirahat
Sehat : 7 –
8 jam / hari tanpa gangguan
Sakit : 4
– 6 jam / hari karena tidak nyaman dengan pasang kateter.
·
Eliminasi
Sehat : BAB
= 2 x / hari, padat dan warna kuning
BAK = 3 – 4 x / hari, warna kuning jernih
Sakit : BAB
= selama dirawat belum ada BAB
BAK =
Pasang kateter jml 1100 cc / 24 jam, warna kuning jernih
·
Personal
Higienes
Sehat :
Mandi 2 x / hari, gosok gigi dan keramas
Sakit :
Seperti biasa karena aktifitas tidak terganggu
n.
Riwayat
Alergi
Tidak ada mengalami alergi, baik makanan, obat
maupun cuaca
o.
Data
Psikososial
Hubungan klien dengan keluarga baik dan rukun,
hubungan dengan tetangga ada baik. Klien sangat tidak nyaman dengan kondisi
penyakit yang dialami, dan sedikit cemas dengan rencana tindakan operasi yang
akan dilakukan.
p.
Data
Spiritual
Klien beragama islam dan ada melakukan sholat lima
waktu, dalam kondisi sekarang klien tetap melaksanakanya dan ada berdoa meminta
kesembuhanya.
q.
Data
Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien waktu ditanya
katanya ada bersih, baik lingkungan rumah sendiri maupun lingkungan sekitar tempat
tinggalnya dan tidak ada masalah dengan lingkungan.
r.
Pemeriksaan
Penunjang
HB : 12,3 g/dl ( 12 – 15 mg/dl )
HT : 6.800 /mm3 ( 5000 – 10000 /mm3 )
Lekosit :
31 % (
36 – 48 % )
Trombosit
: 135.000 mm ( 150.000 – 400.000 mm )
Ureum
: 26 mg/dl ( 10.0 – 50.0 mg/dl )
Natrium
: 137 mg/dl
( 139 – 145 mg/dl )
Kalium
: 3.8 mg/dl ( 4.4 – 4.8 mg/dl )
s.
Program
Pengobatan
·
Kateter
terpasang dengan baik
·
Karena klien
dipersiapkan untuk operasi, maka klien belum mendapat obat oral.
4. Data Fokus.
Hari/tgl
|
DATA SUBJEK
|
DATA OBJEK
|
5.
Analisa Data
NO
|
DATA
|
MASALAH KEPERAWATAN
|
ETIOLOGI
|
DS :
·
klien
mngatakan bak sedikit waktu belum pasang kateter, kira-kira 100 cc / 24 jam.
DO :
·
Klien
terpasang kateter, BAK merembes disamping kateter.
|
Retensi
urin
|
Obstruksi pembesaran
prostat
|
|
DS :
·
klien
mengatakan ari- ari sakit
DO :
·
ekspresi
wajah meringis, gelisah
·
Klien takut
untuk banyak bergerak
·
Klien
sering memegang daerah supra pubik.
|
Nyeri
akut
|
Iritasi mukosa buli-buli,
distensi kdg kemih, infeksi urinaria
|
|
DS :
·
Klien
mengatakan sedikit cemas menghadapi operasi
DO :
·
Klien
sering bertanya tentang prosedur operasi.
·
Klien
sering bertanya tentang kondisi penyakitnya.
|
Cemas
|
Perubahan status
kesehatan menghadapi prosedur pembedahan
|
|
6.
DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
|
DX KEPERAWATAN
|
TUJUAN/ KH
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
I.
|
Retensi urin b/d obstruksi pembesaran prostat
|
Tujuan :
Retensi urin tidak terjadi
KH :
- Pola kemih kembali normal
- Jml urine dalam 2 x 24 jam dalam
batas normal
|
1. Dorong pasien untuk berkemih
tiap 2 – 4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
2.
Awasi dan
catat waktu jumlah tiap berkemih.
3. Dorong masukan cairan sampai
300 ml per hari dalam toleransi jantung bila diindikasikan.
4. Awasi tanda vital dengan
ketat, pertahankan pemasukan dan pengeluaran akurat.
5. Kolaborasi untuk pemberian
obat anti spasmodic
6. Tingkatkan relaksasi otot,
turunkan odema.
|
1.Meminimalkan retensi
urine distensi pada kandung kemih.
2.Dapat menggaggu
kemampuannya untuk memfilter dan mengkonsentrasikan substansi.
3.Untuk mempertahankan
perfusi ginjal dan membersihkan panggul dan kandung kemih dari pertumbuhan
bakteri.
4.Menurunkan resiko penderita ascenden.
5.Meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema dan
dapat meningkatkan upaya berkemih.
6.Menghilangkan spasme kandung kemih sampai dengan
iritasi oleh kanker.
|
NO
|
DX KEPERAWATAN
|
TUJUAN/ KH
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
II.
|
Nyeri akut, b/d iritasi mukosa distensi kandung kemih, infeksi urinaria.
|
Tujuan :
Nyeri teratasi
KH :
-
Nyeri
hilang dalam 2 x 24 jam
-
Klien
tampak tenang
-
Banyak
bergerak
|
1.
Kaji nyeri,
perhatikan lokasi, intensitas (0 – 10)
lamanya
2.
Pertahankan
tirah baring bila diindikasikan
3.
Berikan
tindakan kenyamanan. Contoh pijatan pada punggung
4.
Kolaborasi
masukan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainage
5. Kolaborasi
untuk pemberian obat narkotik dan obat anti bacterial.
|
1. Dalam menentukan
pilihan / kefektifan Memberikan informasi untuk membantu intervensi
2.Tirah baring mungkin diperlukan
pada awal selama fase retensi
3.
Meningkatkan
relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping
4.
Pengaliran
kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan kelenjar
5.
Untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan
relaksasi mental dan fisik, obat antibacterial untuk menurunkan adanya
bakteri dalam traktus urinarius juga yang dimasukan melalui system drainage
|
NO
|
DX KEPERAWATAN
|
TUJUAN/ KH
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
III.
|
Resiko tinggi kekurangan cairan b/d paska
obstruksi diuresis
|
Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.
KH :
- Dalam 2 x 24 jam volume cairan teratasi.
- Tanda -tanda vital
stabil
- Nadi
perifer teraba
- Pengisian perifer baik,
- Membran mukosa
lembab dan keluaran
urin tepat.
|
1. Awasi keluaran
tiap jam bila diindikasikan. Perhatikan
keluaran 100-200 ml/.
2. Pantau masukan
dan haluaran cairan.
3. Awasi tanda-tanda
vital, perhatikan peningkatan
nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,
4. Tingkatkan tirah baring dengan kepala lebih tinggi
5.
Kolaborasi dalam
memantau pemeriksaan laboratorium sesuai
indikasi, contoh: Hb / Ht, jumlah
sel darah merah Pemeriksaan koagulasi,
jumlah trombosi
|
1. Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl
cukupan jumlah natrium diabsorbsi
tubulus ginjal.
2. Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.
3. Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik.
4. enurunkan kerja
jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.
5. Berguna dalam
evaluasi kehilangan darah / kebutuhan
penggantian. Serta dapat
mengindikasikan terjadinya komplikasi misalnya penurunan
faktor pembekuan darah,
|
NO
|
DX KEPERAWATAN
|
TUJUAN/ KH
|
INTERVENSI
|
RASIONAL
|
IV.
|
a.
Ansietas berhubungan
dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.
|
Tujuan : Pasien tampak rileks.
KH :
Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi,
menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa
takut.
|
1.
Dampingi klien dan bina
hubungan saling percaya.
2.
Memberikan informasi tentang
prosedur tindakan yang akan dilakukan.
3. Dorong
pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.
|
1. Menunjukka perhatian dan
keinginan untuk membantu.
2.Membantu pasien dalam memahami
tujuan dari suatu tindakan.
3.Memberikan kesempatan pada
pasien dan konsep solusi pemecahan masalah
|
6.
CATATAN PERKEMBANGAN
HARI/TGL
|
DX KPRWTN
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
TTD
|
26-11-2010
|
I
|
1.
Mendorong
pasien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
2.
Mengawasi
dan catat waktu jumlah tiap berkemih.
3.
Mendorong
masukan cairan sampai 300 ml per hari dalam toleransi jantung bila
diindikasikan.
4.
Mengawasi
tanda vital dengan ketat, pertahankan pemasukan dan pengeluaran akurat.
5.
Berkolaborasi
untuk pemberian obat anti spasmodic.
6.
Meningkatkan
relaksasi otot, turunkan odema.
|
S :Klien mengatakan bak sedikit.
O : BAK klien keluar sedikit.
A : Tujuan belum tercapai.
P :
Implementasi diulang.
|
|
26-11-2010
|
II
|
1.
Mengkaji
nyeri, perhatikan lokasi, intensitas lamanya.
2.
Mempertahankan
tirah baring bila diindikasikan
3.
Memberikan
tindakan kenyamanan. Contoh : pijatan pada punggung.
4.
Berkolaborasi
masukan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainage.
5.
Berkolaborasi
untuk pemberian obat narkotik dan obat anti bacterial.
|
S : Klien mengatakan ari- ari
sakit.
O :Ekspresi wajah meringis,
gelisah.
A : Tujuan belum tercapai.
P :Implementasi
diulang.
|
|
26-11-2010
|
III
|
1.
Mendampingi
klien dan memnbina hubungan saling percaya.
2.
Mendorong
klien dan keluarga untuk menyatakan perasaan / masalah dalam menghadapi
tindakan.
3.
Memberikan
informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan
|
S :Klien menyatakan nyeri pada
daerah bekas operasi.
O :Klien nampak meringis, gelisah.
A : Masalah sebagian teratasi.
P : Implementasi lanjut.
|
HARI/TGL
|
DX KPRWTN
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
TTD
|
27-11-2010
|
I
|
S :
O :
A :
P :
|
||
27-11-2010
|
II
|
S :
O :
A :
P :
|
||
27-11-2010
|
III
|
S :
O :
A :
P :
|
HARI/TGL
|
DX KPRWTN
|
IMPLEMENTASI
|
EVALUASI
|
TTD
|
28-11-2010
|
I
|
S :
O :
A :
P :
|
||
28-11-2010
|
II
|
S :
O :
A :
P :
|
||
28-11-2010
|
III
|
S :
O :
A :
P :
|
DAFTAR PUSTAKA
Doengus, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasi
Perawatan Pasien, edisi III. Penerbitan buku kedokteran EGC. Jakarta 1999
Long, Barbara E. Perawatan Medical Bedah, Edisi III. I APK Padjajaran Bandung. 1996
Longmore M, et.al. (ed.). Oxford Handbook of
Clinical Medicine, 7th Edition. 2007. Oxford University Press.
p.602-3. Chirurgica. 2005. Tosca Enterprise.p.V.9-10.
Tim Redaksi VitaHealth, PROSTAT, Jakarta: Gramedia Pustaka
Utama, 2004.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar