Senin, 20 Juli 2015

makalah bph koe


MAKALAH
Tentang
ASUHAN KEPERAWATAN PADA Tn. T. DENGAN BPH DI RUANGAN BEDAH PRIA ( CP )

Disusun Oleh :
Ns.Yendri Afriko S.kep






Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Indonesia ( STIKESI )
2010 / 2011
.


KATA PENGANTAR


Puji dan syukur penulis panjatkan kehaditrat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis telah dapat menyelesaikan penulisan makalah ini dengan judul “Benigna Prostat Hyperplasia”.
Dalam penyusunan makalah ini penulis banyak mendapat hambatan dan kesulitan, namun berkat bantuan dan bimbingan dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penulisan makalah ini. Untuk itu pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya pada pihakpihak yang telah memberikan bantuan pada penulis yangtidak dapat penulis sebutkan satu persatu disini.
Penulis menyadari bahwa dalam penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu pada kesempatan ini penulis mengharapkan saran dan kritikan yang sifatnya membangun dari semua pihak yang sifatnya membangun demi kesempurnaan penulisan makalah selanjutnya.
Semoga dengan adanya makalah ini akan dapat memberikan manfaat yang besar bagi penulis khususnya dan pembaca semua pada umumnya.



padang,   Desember 2013


Penulis

 

DAFTAR ISI


KATA PENGANTAR .....................................................................................
DAFTAR ISI ...................................................................................................
BAB.I.  PENDAHULUAN. ............................................................................
1.1.  Latar Belakang  ............................................................................
1.2.  Tujuan Penulisan  ........................................................................
1.3.  Batasan Masalah  .........................................................................
BAB II. KONSEP DASAR BENIGNA HYPERPALSIA PROSTAT (BPH).
2.1. Defenisi ........................................................................................
2.2. Anatomi Fisiologi  ........................................................................
2.3. Etiologi  ........................................................................................
2.4. Patofiologi ....................................................................................
2.5. Tanda dan Gejala ..........................................................................
2.6. Gejala Klinik ................................................................................
2.7. Komplikasi ...................................................................................
2.8. Terapi ............................................................................................
2.9. Perawatan .....................................................................................
BAB III   ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN BPH.
3.1. Pengkajian ......................................................................................
3.1.1. Identitas Klien .....................................................................
3.1.2. Pemeriksaan Fisik ...............................................................
3.1.3. Data Fokus ..........................................................................
3.1.4. Analisa Data ........................................................................
3.2. Diagnosa Keperawatan dan Intervensi ..........................................
3.3. Catatan Perkembangan ..................................................................
DAFTAR PUSTAKA




ii
 
 

BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang

Sistim kesehatan merupakan suatu tatanan yang mencerminkan upaya bangsa Indonesia untuk meningkatkan kemampuan mencapai derajat kesehatan yang optimal sebagai perwujudan kesehjahteraan umum. Dalam Visi Indonesia Sehat 2010, gambaran masyarakat Indonesia dimasa depan yang ingin dicapai melalui masyarakat adalah yang ditandai dengan hidup dalam perilaku sehat yang memiliki kemampuan untuk menjangkau pelayanan kesehatan yang bermutu secara adil dan merata serta memiliki derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Asuhan keperawatan adalah suatu proses atau rangkaian kegiatan pada praktik keperawatan yang langsung diberikan kepada klien pada berbagai tatanan pelayanan kesehatan , dalam upaya pemenuhan kebutuhan dasar manusia, dengan menggunakan metodelogi proses keperawatan, berpedomen pada standar praktik keperawatan, dilandasi etik dan etika keperawatan, dalam lingkup wewenang serta tanggung jawab keperawatan.
Istilah hipertropi prostat yang Kelenjar prostat merupakan bagian dari alat reproduksi dan melingkari bagian pangkal uretra, sehingga bila terjadi pembesar kelenjar ini, uretra yang ada ditengah-tengahnya akan tertekan sehingga air seni (urine) tidak dapat mengalir keluar dengan lancar. Penyakit ini sering menyerang laki-laki berumur lebih dari 50 tahun. Sudah umum dipakai sebenarnya tidaklah tepat, karena sebenarnya kelenjar prostat tidaklah membesar ( hypertropi ) tetapi kelenjar-kelenjar periuretral lah yang mengalami hyperplasia ( tidak hypertropi ). Dalam hal ini sel-sel glandular dan sel-sel interstisial mengalami hyperplasia ( selnya bertambah banyak ). Maka dalam literature benigna hyperplasia of the prostate gland atau adenoma prostat tapi istilah hypertropi prostate sudah umum dipakai.
Perawat adalah pelayanan profesional yang merupakan bagian integral dari pelayanan bio, psiko, sosial, spiritual yang komprehensif yang ditujukan pada individu, keluarga dan masyarakat dari sakit maupun sehat (Dasar-dasar Keperawatan Pusdiklat DEP KES RI ).

B.     Tujuan penulisan
  1. Tujuan Umum
      Secara umum, makalah ini dibuat untuk mempelajari lebih dalam tentang    asuhan keperawatan klien dengan BPH.
  1. Tujuan Khusus
      Tujuan khusus dari penulisan ini adalah untuk mengetahui :
·         Pengertian BPH.
·         Klasifikasi BPH
·         Etiologi BPH
·         Patofisiologi
·         Manifestasi klinis
·         Komplikasi
·         Penatalaksanaan
C.    Batasan Masalah
            Masalah yang dibahas dalam makalah ini yaitu Asuhan Keperawatan  pada Tn. T dengan BPH




BAB II
TINJAUAN TEORITIS  BENIGNA PROSTAT HYPERPALSIA
(B P H)


A.    DEFINISI
·         Benign prostatic hyperplasia (BPH) merupakan pembesaran non-kanker (noncancerous) dari kelenjar prostat (prostate gland) yang dapat membatasi aliran urin (kencing) dari kandung kemih (bladder).
·         Benigna  Prostat  Hiperplasi ( BPH )  adalah   pembesaran  jinak   kelenjar  prostat,  disebabkan  oleh  karena  hiperplasi  beberapa  atau  semua  komponen  prostat  meliputi  jaringan  kelenjar / jaringan  fibromuskuler  yang   menyebabkan  penyumbatan   uretra   pars  prostatika  ( Lab / UPF  Ilmu  Bedah  RSUD  dr.  Sutomo,  1994  :  193 ).
·         BPH  adalah  pembesaran    progresif   dari  kelenjar  prostat  ( secara  umum  pada  pria  lebih  tua  dari  50  tahun  )  menyebabkan   berbagai   derajat  obstruksi  uretral   dan  pembatasan    aliran  urinarius   ( Marilynn,  E.D,  2000 : 671 ).

B.     ETIOLOGI
Benign prostatic hyperplasia (BPH) atau hyperplasia Prostat jinak adalah pembengkakan yang terjadi pada kelenjar Prostat, yang dialami oleh pria paruh baya (usia 40 – 59 tahun), sehingga menyumbat saluran kemih.
Dalam dunia medis, apa yang menjadi penyebab terjadinya pembesaran kelenjar Prostat ini masih tetap menjadi misteri, masih belum diketahui dengan pasti, tetapi banyak juga teori yang ditegakan untuk BPH ini seperti :
1.    Teori tumor jinak ( karena komponennya )
2.    Teori rasial dan factor sosial
3.    Teori infeksi dari zat-zat yang belum diketahui
4.    Teori yang berhubungan dengan aktifitas seks
5.    Teori ketidakseimbangan hormonal.
Pendapat terakhir ini sering kali dipakai yaitu terjadi ketidak seimbangan antara hormonal androgen turun, maka terjadi ketidak seimbangan estrogen menjadi lebih banyak secara relatif ataupun secara absolut dan ini menyebabkan prostat membesar.
Ada yang menyebut BPH merupakan salah satu gejala penuaan, andropause, yang terjadi pada pria. Pertambahan usia menjadi semakin tua mengakibatkan penurunan kadar hormon pria, terutama testosteron. Penurunan kadar testosteron secara langsung menyebabkan penurunan kemampuan ejakulasi. Para ahli berpendapat bahwa dihidrotestosteron (DHT) yang memacu pertumbuhan Prostat—seperti yang terjadi pada masa pubertas—adalah penyebabnya.
Tetapi ada juga yang menyebutkan bahwa BPH disebabkan oleh infeksi dalam kelenjar Prostat (Prostatitis Bacterial). Meskipun demikian, tetap diakui bahwa BPH ini sulit diatasi. Beberapa sebab lain yang dapat disebutkan di sini ialah stres kronis, kolesterol yang tinggi, zat-zat nikotin dan konitin, toksin (pestisida, deterjen, dan limbah pabrik), dan kekurangan mineral (seng, tembaga, selenium). Jika tidak diatasi secara dini, BPH dapat berakibat pada terjadinya kanker Prostat atau bahkan juga gagal ginjal karena urin yang tertahan akan balik ke ginjal sehingga beban kerja ginjal semakin besar.
Sebagai catatan tambahan, BPH ini sering juga dikenal dengan Nodular hyperplasia, Benign prostatic hypertrophy, atau Benign enlargement of the prostate (BEP). Berikut disajikan gambar perbandingan antara Prostat normal dan Prostat yang membengkak

C.    PATOFISIOLOGI

Proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran kemih juga terjadi perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi pembesaran prostat, retensi pada leher buli-buli dan daerah prostat meningkat serta otot destrusor menebal dan meregang sehingga sehingga timbul sekulasi atau divertikel. Fase penebalan destrusor ini disebut fase kompensasi. Apabila keadaan berlanjut menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi retensio urine yang selanjutnya dapat menyebabkan hidronefrosis dan disfungsi salurah kemih atas
Adapun patofisiologis dari masing-masing gejala :
·       Penurunan kekuatan dan caliber aliran yang disebabkan retensi uretra adalah penurunan gambaran awalnya dan menetap dari BPH.
·       Nokturia dan frekwensi terjadi karena pengosongan yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval antar miksi pendek.
·       Frekuensi terutama terjadi pada malam hari (nokturin) karena hambatan normal dari konteks berkurang dan tonus otot spinkter dan uretra berkurang selama tidur.
·       Urgensi dan dysuria jarang terjadi, jika ada disebabkan ketidakstabilan destrusor sehingga terjadi kontraksi involunter.
·       Inkontinensia bukan gejala yang khas, walaupun dengan berkembangnya penyakit urine sedikit-sedikit secara berkala karena setelah buli-buli akan cepat naik melebihi tekanan spinkter.

















WOC

Umur 40 – 59 tahun                     hormone androgen                  idiopatik
                                                                
                                         Penurunan fungsi organ perkemihan
                                                                
                                         Aktifitas saluran kemih terus meningkat
                                                                            
                                         Peningkatan kompensasi organ perkemihan
                                                                            
                                                    Sel prostate bertambah banyak
                                                                            
     Obstruksi saluran kemih         nyeri tekan pada kandung kemih
                                                                            
Over manufer saluran kemih      terasa nyeri saat miksi MK : ggn nyaman nyeri
                                                                           
      Therapy invasive                         Decompensasi
        pembedahan                                                                       
                                                    Kontruksi saliran kemih
          Post op                                              
                                            Peningkatan urin dalam buli - buli
                                                                                                               
           
·         Disuria                                     nyeri pd daerah perlukaan
·         Inkontinensia                           nyeri saat BAK
·         Retensi urin                             gelisah
 MK : perubahan eliminasi urin     MK : ggn nyaman nyeri

 


D.         TANDA/GEJALA

1.      Urinary frequency
Tidur di malam hari terganggu hanya untuk kencing. Frekuensi kencing saat siang atau malam hari   (nocturia) biasanya sedikit.
2.      Urinary
Tiba-tiba saja ingin kencing dengan cepat. (The sudden urgent need to urinate   quicly).Perasaan akan kencing sebentar lagi, tanpa terkontrol (The sensation of imminent loss of urine without control)
3.      Hesitancy
Aliran urin yang lemah, ragu-ragu, dan terputus-putus.Sulit untuk memulai kencing. (Difficulty initiating the urinary stream).Harus berdiri atau duduk di toilet beberapa saat terlebih dahulu sebelum kencing (Having to stand at or sit on the toilet for some time prior to producing a urinary stream)
4.      Incomplete bladder emptying (pengosongan kandung kemih yang tidak sempurna
Adanya rasa tidak puas setelah berkemih. (The sensation of incomplete evacuation of urine from the bladder).Perasaan ada urin residu/sisa yang menetap tanpa memerhatikan frekuensi miksi.(The feeling of persistent residual urine regardless of the frequency of urination)
5.      Straining (tegang, mengejan)
Perlu sensasi mengejan untuk mengosongkan kandung kemih. (The need strain or push (Valsalva maneuver) to initiate and maintain urination in order to more fully evacuate the bladder).
6.      Straining (tegang, mengejan)
Perlu sensasi mengejan untuk mengosongkan kandung kemih. (The need strain or push (Valsalva maneuver) to initiate and maintain urination in order to more fully evacuate the bladder).
7.      Decreased force of stream (Berkurangnya kekuatan kencing)
Perasaan subjektif kehilangan kekuatan saat kencing (The subjective loss of force of the urinary stream over time).
8.      Dribbling or dripping (menggiring atau menetes)
Kehilangan sejumlah kecil urin karena aliran urin yang jelek

Sumber lain menyebutkan:
1)      Gejala obstruktif
Misalnya : susah memulai kencing, pancaran saat kencing lemah, kencing tiba – tiba behenti atau lancar lagi, kencing tidak puas,menetes setelah kencing
2)      Gejala iritatif
Misalnya: anyang-anyangen, sering kencing di malam hari (nokturia), rasa ingin kencing yang tidak bisa ditahan (urgensi),rasa nyeri atau tidak enak saat kencing (disuria

E.     GEJALA KLINIK

Sesuai dengan anatominya maka pembesaran prostat dapat mengenai daerah peri uretral, daerah subtrigonal atau daerah bladder neck dan pendesakan daerah inilah yang menyebabkan gejala klinik.
Progresitifitas dari BPH adalah lambat artinya penderita tidak mengetahui onset dari penyakitnya itu dan ia timbul telah ada penyulit-penyulit, seperti yang sering adalah retensi urine, berkurangnya pancaran kencing, air kencing menetes setelah habis berkemih, berkemih yang tidak lampias. Tapi tidak semua BPH menimbulkan keluhan, adapun keluhan tersebut dapat dibagi dalam derajat :
·       Derajat I : penderita merasakan lemahnya pancaran kencing, kencing tidak lampias, frekuensi bertambah pada malam hari
·       Derajat II : adanya retensi urine maka timbulah infeksi. Penderita akan mengeluh waktu miksi terasa panas ( disuria ) dan kencing malam bertambah hebat
·       Derajat III : timbul retensi total

Derajat Benigne Prostat Hyperplasia
Benigne Prostat Hyperplasia terbagi dalam 4 derajat sesuai dengan gangguan klinisnya :
1.    Derajat satu, keluhan prostatisme ditemukan penonjolan prostat 1 – 2 cm, sisa urine kurang 50 cc, pancaran lemah, necturia, berat + 20 gram.
2.    Derajat dua, keluhan miksi terasa panas, sakit, disuria, nucturia bertambah berat, panas badan tinggi (menggigil), nyeri daerah pinggang, prostat lebih menonjol, batas atas masih teraba, sisa urine 50 – 100 cc dan beratnya + 20 – 40 gram.
3.    Derajat tiga, gangguan lebih berat dari derajat dua, batas sudah tak teraba, sisa urine lebih 100 cc, penonjolan prostat 3 – 4 cm, dan beratnya 40 gram.
4.    Derajat empat, inkontinensia, prostat lebih menonjol dari 4 cm, ada penyulit keginjal seperti gagal ginjal, hydroneprosis.


Selain gejala diatas dapat timbul gejala lain seperti :
·       Masa pada abdomen bagian bawah
·       Hematuria
·       Overflow urinaria incontinentia atau dapat ditemukan efek sekunder dari obstruksi bladder neck sebagai gejala permulaan seperti anemia, peningkatan ureum dan kreatinin atau tanda-tanda insufisiensi renal lainnya.
·       Kadang retensi akut merupakan gejala pertama yang dikeluhkan penderita, hal ini disebabkan oleh karena odem yang terjadi oleh prostate yang membesar, odem akut juga disebabkan oleh menahan kencing yang terlalu lama, disebabkan oleh udara dingin atau terlalu banyak minum


Beberapa test biasanya dilakukan oleh dokter untuk mengidentifikasi masalah dan memutuskan pengobatan apa yang harus pasien terima. Beberapa test yang biasanya dilakukan seorang dokter urology dapat disebutkan di sini.
1.    Digital Rectal Examination (DRE)
Test ini biasanya merupakan test pertama yang dilakukan dokter. Dokter memasukkan jari ke rectum dan merasakan Prostat dekat rectum. Test ini memberikan opini bagi dokter tentang ukuran dan kondisi Prostat.
2.    Prostate-Specific Antigen (PSA) Blood Test
Test ini untuk mendeteksi ada tidaknya kanker BPH.
3.    Rectal Ultrasound and Prostate Biopsy
Jika dicurigai terdapat kanker dalam Prostat, test ini pun dilakukan, yaitu dengan menangkap gelombang suara yang diarahkan ke Prostat. Pola-pola gema suara itu dicatat untuk menentukan ada tidaknya tumor.
4.    Urine Flow Study
Dokter meminta pasien untuk membuang air kecil ke dalam sebuah alat khusus untuk mengukur seberapa cepat air seni mengalir. Suatu arus yang dikurangi sering kali menyarankan BPH.


5.    Cystoscopy
Dalam test ini, dokter menyisipkan sebuah tabung kecil melalui uretra, yang memuat sebuah lensa dan sistem pencahayaan yang membantu dokter untuk melihat bagian dalam uretra dan kandung kemih

F.     KOMPLIKASI

Apabila buli-buli menjadi dikompensasi akan terjadi retensio urine karena produksi urine terus berlanjut maka pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi menampung urine sehingga tekanan intra vesika meningkat dapat timbul hydroureter, hydronefrosis dan gagal ginjal, proses kerusakan ginjal dipercepat jika terjadi infeksi.
Karena selalu terdapat sisa urine dapat berbentuk batu endapan dalam buli-buli. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan hematuria. Batu tersebut dapat pula menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat terjadi infeksi.
Komplikasi lain yang dapat terjadi yaitu :
·       Hemorrhoid
·       Perdarahan
·       Inkontinensia
·       Uretritis dan traktus uretra
·       Epindidimiorkhitis
·       Trombosis
·       Fistula ( suprapubik, rektiprostatik )
·       Osteitis pubis

 

G.    TERAPI

Terapi untuk BPH ada 2 macam :
1.    Konservatif
Terapi konservatif dilakukan bila terapi operasi tidak dapat dilakukan karena misalnya menolak operasi, mempunyai sakit jantung berat dan kontra indikasi operasi lainnya.
Terapi konservatif yaitu mengusahakan agar prostat tidak mendadak membesar karena terjadinya / adanya infeksi sekunder dengan peran antibiotik.
Terapi untuk retensi urine yaitu dengan kateterisasi dengan 2 cara :
1)      Kateterisasi intermitten
Buli-buli dapat dikosongkan dan kateter segera dilepas, beberapa pasien kemudian akan dapat miksi sendiri dengan spontan

2)      Kateterisasi indwiling
Sangat berguna terutama bila penderita dulunya juga pernah mengalami retensi urine akut. Tiap hari hendaknya kateter dibersihkan dan tiap minggu diganti dengan kateter baru.
Pada tindakan ini hendaknya disertai dengan perlindungan terhadap bahaya infeksi dengan memberikan juga obat sulfa atau antibiotik.


2.    Operatif
Tindakan operatif :
·       Pernah obstruksi / retensi berulang
·       Urine sisa lebih dari 50 cc
·       Pada panendoskopi didapatkan trabekulasi yang jelas

Kontra indikasi :
Kelainan jantung yang berat ( dekompensasi dan infark segar ), insufisiensi paru yang hebat, hypertensi
Kontra indikasi relatif :
·       DM yang tidak terkendali
·       Kelainan pembekuan darah

Ada 4 cara prostatektomi yang dikenal :
1.    Suprapubik transvesikel yaitu kelenjar prostat diangkat melalui sayatan dinding perut dengan membuka kandung kencing
2.    Refropubik ekstravasikel yaitu perut disayat agak kebawah, lalu kelenjar prostat diangkat tanpa membuka dinding kandung kencing
3.    Perineal prostatektomi yaitu kelenjar prostat dibuang melalui perineum ( sekarang sudah ditinggalkan karena banyak menimbulkan komplikasi )
4.    Trans uretral resection ( TUR ) yaitu kelenjar diangkat melalui saluran uretra


PERAWATAN SEBELUM DAN SESUDAH PEMBEDAHAN
Persiapan Pre Operasi
1.       Tanda persetujuan secara tertulis; penderita dan keluarga harus menyatakan persetujuan pembedahan.
2.       Catatan sebelum pembedahan
Ahli bedah harus meninggalkan suatu catatan pada status pasien dengan menuliskan latar belakang, penemuan dan indikasi untuk operasi itu

3.       Pesan sebelum pembedahan
Pesan tertulis sebelum pembedahan untuk melengkapi persiapan ;
1)      Persiapan kulit
Daerah yang akan dicukur ditentukan, lebih baik kalau pencukuran itu langsung dilaksanakan sebelum pembedahan. Penderita harus dimandikan dengan bersih malam sebelum pembedahan
2)      Diet penderita, tidak boleh makan makanan padat selama 12 jam atau pasien dipuasakan dan minum cairan selama 8 jam sebelum pembedahan
3)      Cairan IV
Pemberian cairan IV tidak diperlukan pada berbagai kasus tetapi pada penderita yang lansia atau yang lemah maka perlu diberikan cairan
4)      Pengurangan isi perut
Pencahar kebanyakan dilaksanakan pada pembedahan perut. Pengosongan sebagian dari usus dilaksanakan pemberian 2-3 tablet dulcolak, peroral atau suppositoria. Pengurasan lebih sempurna dilaksanakan dengan memakai garam fisiologis atau air ledeng + sabun yang hangat kuku ( 500-1500 cc )
5)      Pemberian obat-obatan
Premedikasi anestesi biasanya ditangani oleh dokter ahli anestesi. Obat sebelum pembedahan dapat atau tidak dapat diteruskan harus dilihat lagi
6)      Test laboraturium
Pemeriksaan BUN, kreatinin, serum, urine rutin, kalium, serum, kreatinin dll
7)      Sinar x
Penyinaran pada dada, pielogram IV dapat menetapkan besarnya ginjal dan adanya obstruksi air kemih dan arteriogram kadang diperlukan
8)      Transfusi darah
Dilaksanakan apabila kadar HB dibawah normal disebabkan terjadi perdarahan sesudah operasi
Perawatan Pasca Bedah
1.    Jenis pembedahan
Sehingga perawat dan dokter yang juga mengetahui persoalan yang dihadapi
2.    Tanda-tanda vital
Tekanan darah, nadi, respirasi harus dicatat tiap 15 menit sesudah itu tiap jam selama beberapa jam kemudian tiap 4 jam hingga penderita stabil
3.    Catat BB setiap hari, input dn output
4.    Tentukan catatan BUN, kreatinin, elektrolit setiap hari
5.    Pertahankan keseimbangan cairan dan elektrolit setiap hari
6.    Aktivitas posisi
Posisi mula-mula terlentang tetapi penderita harus dimiringkan kekiri atau kekanan tiap 30 menit sementara ia tak sadarkan diri dan setiap jam sesudahnya. Anjurkan menggerakan kaki secara aktif dan pasif setiap jam hingga diperbolehkan berjalan

7.    Makanan
8.    Cairan intravena ( catat jenis cairan dan kecepatan infus )
9.    Pantau drain pada luka pembedahan bila ada catat outputnya
10. Pantau irigasi pada kandung kemih bila ada
11. Perawatan luka bersih pada daerah luka pasca bedah
12. Pengobatan
Teliti daftar obat-obatan yang diberikan sebelum pembedahan apakah masih perlu pengobatan sesuai dengan indikasi dan pesanan dokter

























BAB III 
ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN DENGAN
HIPERPLASIA PROSTAT

A.    PENGKAJIAN
1.    Identitas klien
Nama                            : Tn. T
Umur                            : 71 Thn
Jenis klamin                  : Laki- laki
Agama                          : Islam
Pekerjaan                      : Wiraswasta
Alamat                          :
No MR                         :
Tgl masuk                     : 26 november 2010
Ruang rawat                 : Bedah Pria ( CP )
P. Jawab                       : Istri
Yang mengirim            : Polyklinik Bedah
Cara masuk                  : Berjalan sendiri
Alat bantu                    : Poly kateter
Alasan Masuk             : Klien mengatakan nyeri pada saat BAK,nyeri tekan pada ari-ari, Klien sudah direncanakan untuk operasi.
Tanggal Pengkajian      :  26 – 11 - 2010

2.    Riwayat Kesehatan
a.       Sekarang :    
Pada saat pengkajian pada tanggal 28-11-2010, klien baru masuk bangsal melalui poliklinik bedah diantar oleh istri dan anak. Klien mengatakan nyeri pada saat BAK, BAK keluar sedikit sedikit dan merasa tidak puas saat BAK dan klien  mengatakan urine sering menetes setelah BAK. Klien mengatakan tidak tahan kalau tidak pasang kateter, kateter sudah pasang dari rumah ( kateter dipasang ditempat praktek dokter 5 hari yang lalu ).

Klien rencana persiapan untuk operasi hari senin 29-11-2010, dan klien mengatakan sedikit cemas untuk menghadapi operasi besok. Klien tampak mondar mandir diruangan ketika ditinggalkan sebentar oleh keluarga. Klien  juga mengatakan tidak tahan menahan sakit kalau tidak dioperasi.

b.      Dahulu :
Klien mengatakan penyakit ini sudah terasa sejak 1,5 bln yang lalu, dan klien pergi berobat ketempat praktek dokter, dianjurkan untuk operasi, dicoba pasang kateter ditempat praktek dokter tetapi juga tidak berhasil, BAK sedikit.

c.       Keluarga :
Anggota keluarga tidak ada yang menderita penyakit yang sama dengan klien .

3.    Pemeriksaan Fisik
a.  Tanda – tanda vital :
TD             : 130/ 90 mmHG
S                : 36,6
P                : 20 x/i
N                : 72 x /i
BB              : 61 kg
TB              : 171 cm
               Kesadaran  : CM
b.      Rambut
Hitam sedikit beruban, tidak rontok, kulit kepala bersih, tidak berketombe dan tidak ada lesi.
c.   Mata
Simetris ki dan ka, konjungtiva tidak anemis, sklera tidak
ikterik,palpebra tidak edema serta pupil isokor.

d.   Hidung
Septum nasal simetris, tidak ada sekret, polip tidak meradang, dan tidak ada perdarahan.
e.   Mulut
Mukosa bibir baik dan tidak kering, gigi tidak lengkap, ada karies, lidah bersih dan tonsil tidak meradang.
f.   Telinga
Simetris ki dan ka, tidak ada serumen, klien tidak memakai alat bantu pendengaran.
g.   Leher
Kelenjer getah bening dan kelenjer tiroid tidak teraba.
h.   Dada / thorak
·         Paru-paru
I   : Simetris ki dan ka
P  : Fremitus sama ki dan ka
P  : Sonor (+)
A  : Vesikuler
·         Kardiovaskuler
I   : Iktus kordis terlihat
P  : Iktus kordis teraba 1 jari di LMCS - RIC V
P  : Batras jantung normal
A  : Irama teratur
i.   Abdomen
I   : Tidak membuncit
P  : Hepar teraba
P  : Tympani
A  : Bising usus normal = 15 x/i
j.   Genitalia
Lengkap dan bersih, terpasang kateter.
k.  Ektermitas
Atas dan Bawah : Lengkap ki dan ka, tidak ada cianosis, kapilerrefil kembali 3 detik, akral hangat dan tidak edema.
l.   Kulit
Warna sawo matang, turgor baik dan tidak cianosis.
m.    Pemenuhan Kebutuhan Dasar
·         Nutrisi/makan
Sehat  : 3 x sehari (nasi+lauk+sayur) porsi habis
Sakit   : Diit MB 3 x sehari porsi habis
·         Cairan/minum
Sehat  : 2000 – 2500 cc / hari, air putih + minuman kaleng
Sakit   : 1500 – 2000 cc / hari, air putih
·         Tidur/istirahat
Sehat  : 7 – 8 jam / hari tanpa gangguan
Sakit   : 4 – 6 jam / hari karena tidak nyaman dengan pasang kateter.
·         Eliminasi
Sehat  : BAB = 2 x / hari, padat dan warna kuning
BAK = 3 – 4 x / hari, warna kuning jernih
Sakit   : BAB =  selama dirawat belum ada BAB
BAK =  Pasang kateter jml 1100 cc / 24 jam, warna kuning jernih
·         Personal Higienes
Sehat  : Mandi 2 x / hari, gosok gigi dan keramas
Sakit   : Seperti biasa karena aktifitas tidak terganggu
n.      Riwayat Alergi
Tidak ada mengalami alergi, baik makanan, obat maupun cuaca
o.      Data Psikososial
Hubungan klien dengan keluarga baik dan rukun, hubungan dengan tetangga ada baik. Klien sangat tidak nyaman dengan kondisi penyakit yang dialami, dan sedikit cemas dengan rencana tindakan operasi yang akan dilakukan.
p.      Data Spiritual
Klien beragama islam dan ada melakukan sholat lima waktu, dalam kondisi sekarang klien tetap melaksanakanya dan ada berdoa meminta kesembuhanya.
q.      Data Lingkungan
Lingkungan tempat tinggal klien waktu ditanya katanya ada bersih, baik lingkungan rumah sendiri maupun lingkungan sekitar tempat tinggalnya dan tidak ada masalah dengan lingkungan.
r.        Pemeriksaan Penunjang
HB                     : 12,3 g/dl                        ( 12 – 15 mg/dl )
HT                     :  6.800 /mm3                  ( 5000 – 10000 /mm3 )
Lekosit              :  31 %                             ( 36 – 48 % )
Trombosit          :  135.000 mm                 ( 150.000 – 400.000 mm )
Ureum               :  26 mg/dl                        ( 10.0 – 50.0 mg/dl )
Natrium             : 137 mg/dl                       ( 139 – 145 mg/dl )
Kalium              :  3.8 mg/dl                        ( 4.4 – 4.8 mg/dl )


s.       Program Pengobatan
·         Kateter terpasang dengan baik
·         Karena klien dipersiapkan untuk operasi, maka klien belum mendapat obat oral.













4. Data Fokus.
Hari/tgl
DATA SUBJEK
DATA OBJEK
































5.  Analisa Data
NO
DATA
MASALAH KEPERAWATAN
ETIOLOGI


DS :
·         klien mngatakan bak sedikit waktu belum pasang kateter, kira-kira 100 cc / 24 jam.
DO :
·         Klien terpasang kateter, BAK merembes disamping kateter.
Retensi urin
Obstruksi pembesaran prostat


DS :
·         klien mengatakan ari- ari sakit
DO :
·         ekspresi wajah meringis,  gelisah
·         Klien takut untuk banyak bergerak
·         Klien sering memegang daerah supra pubik.
Nyeri akut
Iritasi mukosa buli-buli, distensi kdg kemih, infeksi urinaria



DS  :
·         Klien mengatakan sedikit cemas menghadapi operasi
DO :
·         Klien sering bertanya tentang prosedur operasi.
·         Klien sering bertanya tentang kondisi penyakitnya.
Cemas
Perubahan status kesehatan menghadapi prosedur pembedahan













6.    DIAGNOSA DAN INTERVENSI KEPERAWATAN
NO
DX KEPERAWATAN
TUJUAN/ KH
INTERVENSI
RASIONAL
I.
Retensi urin b/d obstruksi pembesaran prostat
Tujuan :
Retensi urin tidak terjadi

KH :
- Pola kemih kembali normal
- Jml urine dalam 2 x 24 jam dalam batas normal
1. Dorong pasien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.

2.    Awasi dan catat waktu jumlah tiap berkemih.

3. Dorong masukan cairan sampai 300 ml per hari dalam toleransi jantung bila diindikasikan.

4. Awasi tanda vital dengan ketat, pertahankan pemasukan dan pengeluaran akurat.

5. Kolaborasi untuk pemberian obat anti spasmodic


6. Tingkatkan relaksasi otot, turunkan odema.
1.Meminimalkan retensi urine distensi pada kandung kemih.

2.Dapat menggaggu kemampuannya untuk memfilter dan mengkonsentrasikan substansi.

3.Untuk mempertahankan perfusi ginjal dan membersihkan panggul dan kandung kemih dari pertumbuhan bakteri.

4.Menurunkan resiko penderita ascenden.



5.Meningkatkan relaksasi otot, penurunan edema dan dapat meningkatkan upaya berkemih.

6.Menghilangkan spasme kandung kemih sampai dengan iritasi oleh kanker.



NO
DX KEPERAWATAN
TUJUAN/ KH
INTERVENSI
RASIONAL
II.
Nyeri akut, b/d iritasi mukosa distensi kandung kemih, infeksi urinaria.
Tujuan :
Nyeri teratasi

KH :
-      Nyeri hilang dalam 2 x 24 jam
-      Klien tampak tenang
-      Banyak bergerak

1.    Kaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas (0 – 10)  lamanya
2.    Pertahankan tirah baring bila diindikasikan
3.    Berikan tindakan kenyamanan. Contoh pijatan pada punggung

4.    Kolaborasi masukan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainage

5. Kolaborasi untuk pemberian obat narkotik dan obat anti bacterial.
1. Dalam menentukan pilihan / kefektifan Memberikan informasi untuk membantu intervensi
2.Tirah baring mungkin diperlukan pada awal selama fase retensi
3. Meningkatkan relaksasi, memfokuskan kembali perhatian dan meningkatkan kemampuan koping
4.   Pengaliran kandung kemih menurunkan tegangan dan kepekaan kelenjar
5.  Untuk menghilangkan nyeri berat, memberikan relaksasi mental dan fisik, obat antibacterial untuk menurunkan adanya bakteri dalam traktus urinarius juga yang dimasukan melalui system drainage

NO
DX KEPERAWATAN
TUJUAN/ KH
INTERVENSI
RASIONAL
III.
Resiko tinggi kekurangan cairan b/d paska obstruksi diuresis














Tujuan : Keseimbangan cairan tubuh tetap terpelihara.
KH :
- Dalam 2 x 24 jam volume cairan teratasi.
-  Tanda -tanda  vital  stabil
-  Nadi  perifer  teraba
-  Pengisian perifer baik, 
-  Membran   mukosa  lembab  dan   keluaran  urin  tepat.

1. Awasi    keluaran   tiap       jam           bila diindikasikan. Perhatikan keluaran 100-200 ml/.

2. Pantau  masukan  dan  haluaran  cairan.
3. Awasi  tanda-tanda  vital,  perhatikan  peningkatan  nadi dan pernapasan, penurunan tekanan darah, diaforesis, pucat,
4. Tingkatkan tirah baring  dengan kepala lebih tinggi

5.      Kolaborasi  dalam  memantau  pemeriksaan  laboratorium  sesuai  indikasi,  contoh: Hb / Ht,  jumlah  sel  darah  merah Pemeriksaan  koagulasi,  jumlah  trombosi
1.    Diuresisi yang cepat dapat mengurangkan volume total karena ketidakl cukupan  jumlah natrium diabsorbsi tubulus ginjal.
2.    Indikator keseimangan cairan dan kebutuhan penggantian.
3.    Deteksi dini terhadap hipovolemik sistemik.

4. enurunkan kerja jantung memudahkan hemeostatis sirkulasi.

5. Berguna dalam evaluasi kehilangan darah / kebutuhan  penggantian. Serta dapat  mengindikasikan  terjadinya  komplikasi misalnya  penurunan  faktor  pembekuan  darah,
NO
DX KEPERAWATAN
TUJUAN/ KH
INTERVENSI
RASIONAL
IV.
a.    Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan atau menghadapi prosedur bedah.

Tujuan : Pasien tampak rileks.

KH :
Menyatakan pengetahuan yang akurat tentang situasi, menunjukkan rentang yang yang tepat tentang perasaan dan penurunan rasa takut.


1.    Dampingi klien dan bina hubungan saling percaya.


2.    Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan.

 
3. Dorong pasien atau orang terdekat untuk menyatakan masalah atau perasaan.



1. Menunjukka perhatian dan keinginan untuk membantu.


2.Membantu pasien dalam memahami tujuan dari suatu tindakan.



3.Memberikan kesempatan pada pasien dan konsep solusi pemecahan masalah



6.    CATATAN PERKEMBANGAN
HARI/TGL
DX KPRWTN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
TTD

26-11-2010
        I
      
1.      Mendorong pasien untuk berkemih tiap 2 – 4 jam dan bila tiba-tiba dirasakan.
2.      Mengawasi dan catat waktu jumlah tiap berkemih.
3.      Mendorong masukan cairan sampai 300 ml per hari dalam toleransi jantung bila diindikasikan.
4.      Mengawasi tanda vital dengan ketat, pertahankan pemasukan dan pengeluaran akurat.
5.      Berkolaborasi untuk pemberian obat anti spasmodic.
6.      Meningkatkan relaksasi otot, turunkan odema.
S :Klien mengatakan bak sedikit.
O  : BAK klien keluar sedikit.
A  : Tujuan belum tercapai.
P   : Implementasi diulang.

26-11-2010

         II
1.    Mengkaji nyeri, perhatikan lokasi, intensitas  lamanya.
2.    Mempertahankan tirah baring bila diindikasikan
3.    Memberikan tindakan kenyamanan. Contoh : pijatan pada punggung.
4.    Berkolaborasi masukan kateter dan dekatkan untuk kelancaran drainage.
5.    Berkolaborasi untuk pemberian obat narkotik dan obat anti bacterial.
S : Klien mengatakan ari- ari sakit.
O :Ekspresi wajah meringis, gelisah.
A  : Tujuan belum tercapai.
P :Implementasi diulang.

26-11-2010

      III
1.      Mendampingi klien dan memnbina hubungan saling percaya.
2.      Mendorong klien dan keluarga untuk menyatakan perasaan / masalah dalam menghadapi tindakan.
3.      Memberikan informasi tentang prosedur tindakan yang akan dilakukan

S :Klien menyatakan nyeri pada daerah bekas operasi.

O :Klien nampak meringis, gelisah.
A  : Masalah sebagian teratasi.
P   : Implementasi lanjut.


HARI/TGL
DX KPRWTN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
TTD

27-11-2010
        I
      

S :
O  :
A  :
P   :

27-11-2010

         II

S :
O :
A  :
P :

27-11-2010

      III

S :

O :
A  :
P   :






HARI/TGL
DX KPRWTN
IMPLEMENTASI
EVALUASI
TTD

28-11-2010
        I
      

S :
O  :
A  :
P   :

28-11-2010

         II

S :
O :
A  :
P :

28-11-2010

      III

S :
O :
A  :
P   :











DAFTAR PUSTAKA

Doengus, Marilyn E. Rencana Asuhan Keperawatan, Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasi Perawatan Pasien, edisi III. Penerbitan buku kedokteran EGC. Jakarta 1999

Long, Barbara E. Perawatan Medical Bedah, Edisi III. I APK Padjajaran Bandung. 1996

Longmore M, et.al. (ed.). Oxford Handbook of Clinical Medicine, 7th Edition. 2007. Oxford University Press. p.602-3. Chirurgica. 2005. Tosca Enterprise.p.V.9-10.

Tim Redaksi VitaHealth, PROSTAT, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2004.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar